UCAPAN NATAL

Dasar Hukum Boleh dan Tidaknya Seorang Muslim Mengucapkan Selamat Natal

Warga Indonesia seringkali berdebat berkenaan boleh dan tidaknya ucapkan selamat untuk hari besar agama lain, seperti hari Natal, Nyepi, dan sebagainya. Ada golongan masyarakat yang memperkenankan, tetapi cukup banyak yang larang. Pembicaraan ini sering jadi membesar, baik di kehidupan setiap hari dan di jagad media digital.

Baca Juga  Apa itu investasi? dan mengapa kita harus berinvestasi diusia muda?

Sebelum lebih jauh, sebaiknya kita melihat macam pandangan ulama dalam melihat kasus ini. Beberapa ulama sendiri terdiri jadi dua barisan dalam melihat kasus ini; ada kelompok ulama yang memperbolehkan dan ada juga yang mengharamkan. Masing-masing mempunyai argumentasi dan alasan untuk kukuhkan pendapatnya.

Hukum Ucapkan Selamat Natal Menurut Quraish Shihab

Ketidaksamaan ini karena tidak ada ayat Al-Qur’an atau hadits yang dengan jelas menjelaskan hukumnya. Oleh beberapa ulama, hal ini ditempatkan dalam kelompok masalah ijtihadi.

Baca Juga  5 Tips Dasar yang Harus Diketahui Pemula dalam Berinvestasi

Hukumnya Boleh

Sebagian kelompok ulama yang membolehkan ucapan selamat atas hari besar umat beragama lain berpedoman pada Al-Qur’an Surat al-Mumtahanah ayat 8: “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.”

Baca Juga  Pemerintah Bagikan Bantuan Obat Gratis untuk Pasien COVID19

Dalam ayat itu, Allah tidak larang seorang Muslim untuk melakukan perbuatan baik ke siapa yang tidak memeranginya dan mengusirnya. Ucapkan selamat hari raya non-Muslim dipandang sebagai salah satunya wujud tindakan baik ke non-Muslim. Dengan begitu, ialah boleh hukumnya lakukan hal tersebut.

Baca Juga  Persyaratan & Cara Daftar untuk PPPK Guru di Daerah (CPNS 2021)

Ulama yang membolehkan jadikan hadits Nabi Muhammad yang diriwayatkan Anas bin Malik sebagai alasan atas pendapat mereka. Bunyi hadits itu ialah: “Dahulu ada seorang anak Yahudi yang senantiasa melayani (membantu) Nabi Muhammad, kemudian ia sakit. Maka, Nabi mendatanginya untuk menjenguknya, lalu beliau duduk di dekat kepalanya, kemudian berkata: ‘Masuk Islam-lah!’ Maka anak Yahudi itu melihat ke arah ayahnya yang ada di dekatnya, maka ayahnya berkata: ‘Taatilah Abul Qasim (Nabi Muhammad).’ Maka anak itu pun masuk Islam. Lalu Nabi keluar seraya bersabda: ‘Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkannya dari neraka.”

Baca Juga  Kabar gembira, Program Kartu Prakerja segera dibuka

Dalam hadits itu, Nabi Muhammad memberi teladan ke umatnya supaya melakukan perbuatan baik ke non-Muslim yang tidak melawan mereka. Begitu juga dengan ucapkan selamat hari raya atas agama lain ke mereka yang memperingatinya. Ulama yang membolehkankan memandang hal tersebut sebagai wujud melakukan perbuatan baik ke non-Muslim. Karena itu memberikan selamat hari raya ke mereka hukumnya boleh.

Kelompok ulama ini memiliki pendapat jika ucapkan selamat hari raya ke non-Muslim tidak berarti mengakui apa yang dipercaya mereka, tetapi lebih dari penghormatan dalam bermasyarakat dan jaga kerukunan bersama.

Baca Juga  Siap-Siap, 520 Instansi Buka Pendaftaran CPNS 2021 dan PPPK

Di antara ulama yang membolehkan adalah Syekh Ali Jum’ah, Syekh Muhammad Rasyid Ridla, Syekh Yusuf Qaradhawi, Syekh al-Syurbashi, Syekh Abdullah bin Bayyah, Syekh Nasr Farid Washil, Syekh Musthafa Zarqa, Syekh Ishom Talimah, Syekh Musthafa al-Zarqa’, Prof. Dr Abdussattar Fathullah Sa’id, Prof. Dr. Muhammad al-Sayyid Dusuqi, Majelis Fatwa Eropa, Majelis Fatwa Mesir, dan lainnya.

Hukumnya Tidak Boleh

Sementara itu, di sini yang lain, terdapat ulama yang mengharamkan. Para ulama berpedoman pada beberapa sejumlah dalil, salah satunya adalah Al-Qur’an Surat al-Furqon ayat 72: “Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.”

Barisan ulama ini menerjemahkan ayat di atas jika ciri-ciri orang yang akan memperoleh martabat tinggi di surga ialah orang yang tidak memberi kesaksian palsu. Sementara seorang Muslim yang mengucapkan selamat untuk hari raya agama yang lain dipandang sama dengan memberi persaksian palsu dan benarkan kepercayaan umat non-Muslim mengenai hari rayanya. Sebagai resikonya, ia tidak memperoleh martabat yang tinggi di surga. Atas dasar itu, mereka mengharamkan perkataan selamat untuk hari raya non-Muslim.

Baca Juga  Syarat pendaftaran Beasiswa Unggulan program Magister untuk Disabilitas

Dalil lain yang mereka gunakan untuk menguatkan argumentasinya adalah hadits riwayat Ibnu Umar, yaitu “Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka dia termasuk bagian kaum tersebut.” Hadits ini sangat terkenal dan sering dipakai oleh sekelompok umat Islam untuk mengafirkan umat Islam lainnya, hanya karena mereka dianggap ‘menyerupai’ non-Muslim.

Hadits di atas digunakan dalam menghukumi perkataan selamat untuk hari besar agama lain. Untuk ulama yang mengharamkan, seorang Muslim yang mengucapkan selamat untuk hari raya agama lain berarti dia menyerupai tradisi umat tersebut. Karena menyerupai, maka ia termasuk dari golongan itu. Oleh karenanya, memberikan selamat haram non-Muslim jadi haram hukumnya.

Selain itu, mereka memiliki pendapat jika seorang Muslim yang ucapkan selamat hari raya non-Muslim dipandang ikut dalam menysiarkan ajaran orang-orang kafir. Padahal, Allah tidak meridhai para hambanya yang kafir.

Hukum Ucapkan Selamat natal

Di antara ulama yang mengharamkan seorang Muslim mengucapkan selamat atas hari raya agama lain adalah Ibnu Taimiyyah, Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, Syekh Abdul Aziz bin Baz, Syekh Utsaimin, Syekh Ibrahim bin Muhammad al-Haqil, Syekh Ibrahim bin Ja’far, Syekh Ja’far At-Thalhawi, dan lainnya.